Selamat Datang | | | Versi Mobile


Breaking
    Loading ...

Jumat, 19 April 2013

Dari EA Mangindaan Hingga Rahmad Darmawan, Pelatih Lokal Merah-Putih Dari Masa Ke Masa

By
Updated : Jumat, 19 April 2013 22.37.00


Bertje Matulapelwa menjadi satu-satunya pelatih lokal yang pernah mengukir prestasi tertinggi bagi timnas Indonesia dengan mempersembahkan medali emas SEA Games 1987.

Sejarah tinggallah sejarah. Semua itu hanyalah kenangan manis yang dewasa ini cuma menjadi sebuah cerita epik di tengah prahara tak kunjung usai yang merundung persepakbolaan Indonesia. PSSI [Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia] selaku badan tertinggi sepakbola Indonesia, yang seyogyanya mengayomi klub-klub di dalamnya maupun timnas sebijaksana mungkin, seperti sudah dibutakan oleh gemerlap kepentingan politis yang bermuara pada nama yang mungkin akan membuat mata setiap orang terbelalak hijau ketika melihatnya: uang.

Ya, bila kita kembali menapaktilasi timnas Garuda di era dua dekade ke belakang, betapa penuh romansa suka cita dan selalu terajut senyum semringah di setiap wajah-wajah anak bangsa. Betapa tidak, Indonesia di masa-masa itu bak macan yang tengah lapar-laparnya. Lemari sejarah skuat Merah-Putih pun pernah menuliskan capaian serta raihan bergengsi sarat prestise.

Sebut saja ketika Indonesia masuk ke putaran final Pala Dunia 1938 di Prancis. Meskipun dengan nama Hindia-Belanda, setidaknya sejumlah putra asli Tanah Air terlibat di dalamnya, dan ini menjadi sebuah kisah manis tersendiri.

Setelah periode itu, sebuah prestasi yang disebut-sebut paling fenomenal di era 50-an digapai Indonesia. Merangsek ke Olimpiade Melbourne pada 1956, tim Garuda seolah terbang tinggi dengan kedua sayapnya, di mana mereka berhasil melenggang hingga fase perempat-final berjumpa raksasa sepakbola dunia saat itu, Uni Soviet, yang kala itu dikapteni oleh kiper termasyhur sejagat raya, Lev Yashin. Meski pada akhirnya Indonesia bertekuk lutut 4-0, tapi hasil itu sudah dianggap sebagai dakian tertinggi Merah-Putih sepanjang sejarah.

Sampai Indonesia pun menjadi raja di Asia Tenggara dengan goresan prestasi Medali Emas pertama di Sea Games 1987 di Jakarta, disusul Medali Emas kedua sekaligus menjadi yang terakhir di pentas dua tahunan itu pada 1991 di Manila. Pasca-euforia itu, Indonesia bak hibernasi. Mereka yang katanya dulu dipandang sebagai Macan Asia kini tampak tertidur pulas dan enggan bangkit.

Upaya bongkar-pasang pelatih digalakkan. Tercatat ada 38 pelatih pernah membidani timnas Indonesia. Peralihan racik-meracik strategi dari muka-muka lokal sampai serentet wajah asing silih berganti dari mulai PSSI tercetus hingga hari ini. Pelatih asing [20] memang menguasai daftar ketimbang pelatih lokal [18]. Namun, selalu ada tempat tersendiri di hati para loyalis bila melihat kiprah beberapa pelatih dalam negeri, sebab tak sedikit di antara dari mereka-mereka itu pernah membawa Indonesia meraih trofi sarat makna.

Siapa-siapa saja mereka? Di ulang tahun PSSI yang ke-83, GOAL.com Indonesia suguhkan Anda cerita historis manis-pahitnya perjalanan timnas Indonesia di bawah komando juru taktik lokal sejak zamannya E.A. Mangindaan [1966] sampai Rahmad Darmawan [2013].



E.A. Mangindaan | 1966-1970
Inilah pelatih lokal pertama Indonesia -- setelah tiga peracik strategi terdahulu adalah warga asing -- sejak berdirinya PSSI. Pria yang akrab disapa Opa Mangindaan ini juga merupakan salah satu pendiri PSSI.

Publik tanah air tentu tidak akan lupa atas keberhasilan terbesarnya di tahun 1956 kala mampu membawa Indonesia bermain seri kontra Rusia 0-0 di Olimpiade Melbourne, kendati pada masa itu Mangindaan cuma berperan sebagai asisten pelatih kepala Tony Pogacnik.

Tangan dingin pria yang mengembuskan nafas terakhirnya di usia 89 tahun pada 3 Juni 2000 itu mulai diperhitungkan masuk mengarsiteki timnas setelah dia beberapa kali menjadi bagian tak terpisahkan dari supremasi PSM Makassar menjuarai ajang nasional.

Sebagai bentuk penghormatan, stadion di Amurang, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, diberi nama Opa Mangindaan.



Endang Witarsa | 1970-1971
Kendati lulus sebagai dokter gigi, mendiang Endang memilih fokus pada dunia sepakbola.

kecintaannya pada olahraga terpopuler di dunia itu pun dibuktikan dengan dirinya yang sanggup bermain bagi timnas Indonesia, bahkan merambah menjadi pelatih kepala Merah-Putih setelah tutup buku sebagai pemain.

Dipoles pria yang menutup usia pada 2 April lima tahun silam itu, Indonesia cukup terpandang. Aneka ragam torehan dipersembahkan Endang. Piala Raja di Thailand (1968), titel Merdeka Games di Malaysia (1969), trofi Pesta Sukan di Singapura, merajai Anniversary Cup (1972)
Juara Agha Khan Cup di Pakistan), adalah bukti-bukti sahih kejayaan dia bersama tim Garuda.

Hampir tak ada cerita kehidupan lain, hanya sepakbola yang anteng menemani sepanjang perjalanan hidup pria yang dikenal keras, disiplin dan tak segan-segan menghajar anak didiknya yang dianggap malas itu.



Suwardi Arland | 1972-1974 & 1976-1978
Almarhum Suwardi meninggal di usia 69 tahun karena sakit. Periode kepelatihannya di timnas terbilang singkat, tapi namanya tetap menjadi bagian dari sejarah tak terlupakan Merah-Putih.

Perjalanan karier manajerialnya dimulai dari 1972-1974, setelah dia menggantikan posisi juru taktik terdahulu, Yusuf Balik. Dalam dua tahun membesut timnas, Suwardi memutuskan berhenti. Tetapi namanya tidak serta merta diabaikan. Buktinya, empat tahun berselang, dia kembali dipercaya menukangi skuat Garuda selama, lagi, dua tahun. Itu semua berkat predikat dirinya yang di masanya dipandang sebagai salah satu pelatih terbaik nasional.

Bekal pengalaman ketika dia masih aktif sebagai pemain bola barangkali menjadi salah satu alasan pula kenapa dia cukup dihormati sebagai nahkoda tim. Bersama Ramang dan Nursalam, pemain legendaris timnas yang sangat masyhur di zamannya, kehadiran Suwardi melengkapi sebutan "trio tangguh" skuat timnas.

""Umpan-umpannya dikenal sangat akurat. Mereka bertiga dikenal sebagai trio tangguh," ujar Muhardi, salah satu anak didik Suwardi.



Djamiat Dalhar | 1974
Keberhasilan hanya bisa dicapai dengan usaha dan doa. Mungkin ungkapan ini pantas disematkan pada Djamiat. Mulanya dari sekadar menonton Soedarmadji, salah satu pribumi yang memperkuat Hindia-Belanda di Piala Dunia 1938, hingga pria yang berpulang di usia 51 tahun itu pun membulatkan tekadnya untuk menjadi pemain bola dan terus mengembangkan cita-citanya.

Tak heran jika Djamiat sebelum menjadi pelatih timnas merupakan salah satu pilar sakral skuat Garuda.

Mantan superstar Persija di era 50 dan 60an ini memulai pekerjaannya sebagai arsitek timnas pada 1974. Di tahun itu, sebuah laga yang dinanti-nanti pun tiba: tarung eksebisi kontra Uruguay.

Tak dinyana, Indonesia besutan Djamiat sukses membuat 80.000 pasang mata yang menyaksikan langsung laga tersebut di Senayan hanyut dalam euforia. Betapa tidak, Uruguay yang dikenal tim tangguh, berhasil ditundukkan Merah-Putih 2-1. Kemenangan itu pula menjadi kado istimewa bagi PSSI yang saat itu tengah berulang tahun ke-44.



Aang Witarsa | 1974-1975
Salah satu pelatih jenius Indonesia. Bukan tanpa alasan menyebut demikian, bekal yang dia bawa sebelum menjadi juru racik timnas adalah pelajaran-pelajaran mahal yang dia petik ketika dirinya menimba ilmu kepelatihan di Leipzig, Jerman Timur.

Sebelum membesut timnas, Persib menjadi eksperimen pertama dia sebagai mentor sebuah tim. Di timnas, tak ada raihan signifikan yang dia berikan lantaran usia melatihnya yang terbilang minim: satu tahun.

Pria 83 tahun yang semasa aktif sebagai pemain sempat mendapat julukan "Si Kuda Terbang". Alasannya, sebab kemampuan berlari dia di atas rata-rata. Lebih dari itu, dia sangat cakap dalam posisi menggiring bola sambil berlari kencang. Ini menyulitkan lawan-lawan yang hendak membendungnya.

Aang juga salah satu pemain yang tertulis dalam tinta sejarah Indonesia yang melaju ke perempat-final Olimpiade Melbourne 1956 sebelum ditaklukkan Uni Soviet.



Harry Tjong | 1981-1982
Selama satu tahun singkatnya memimpin timnas dalam kurun 1981-1982, tidak ada pencapaian berarti diraih pasukan Garuda.

Tapi nama Tjong tak pernah disangsikan semasa dia menjadi pesepakbola profesional. Pria kelahiran Makassar 74 tahun silam ini mengakui kariernya melompat hebat saat dia memilih hijrah ke Jakarta. Tony Pogacnik adalah orang yang paling disebut Tjong berjasa dalam mengubah nasibnya.

Di pengujung tahun 57, Tjong mengikuti pelatnas wilayah timur dan dia berhasil lolos seleksi. Dan di suatu kesempatan sesi latihan, Tony meminta seluruh calon kiper untuk melompati dirinya sambil mengambil bola yang dijepit di kakinya. Semua segan, tak ada yang berani. Namun tidak demikian bagi Tjong. Dia maju dan melakukan apa yang diinsturksikan sang pelatih.

Ya, sebuah aksi yang kemudian mengukuhkan pamor Tjong sebagai salah satu kiper pemberani Indonesia.



Sinyo Aliandoe | 1982-1983 & 1987
Pria kelahiran Larantuka, Flores Timur, ini mulai mengudara di ranah kepelatihan sejak awal 70an. Keputusannya menekuni bidang olah taktik sepakbola itu dilandasi karena cedera parah tulang pergelangan kaki yang diidapnya saat masih bermain.

Tak banyak waktu memang dia berada di balik layar timnas. Tapi semasa 1987 itu, Sinyo dikenal sebagai mentor penuh hitung-hitungan teknik di lapangan. Bagi dia, dewi fortuna itu bak isapan jempol belaka. Membaca potensi mencetak gol, serta menganalisis kemampuan setiap anak buahnya adalah hitung-hutungan yang selalu dikedepankan pelatih yang kini berusia 72 tahun itu.

Maka tak heran bila Sinyo bisa menyulap permainan tim dalam sekejap hanya dari mengandalkan subtitusi pemain. Yah kembali lagi karena kebiasaan dia itu, yang penuh dengan perhitungan, sehingga dia tahu luas bagaimana karakter bermain setiap penggawanya.



M. Basri, Iswadi Idris & Abdul Kadir | 1983-1984

Di rentang 83-84 timnas Indonesia memperkenalkan tiga pelatih sekaligus yang kemudian dikenal dengan sebutan "Trio Basiska".

Berlatar belakang meracik sejumlah klub nasional, ketiganya pun ditunjuk untuk memimpin timnas di Pra Olimpiade 1983. Tetapi segala sesuatunya dianggap tak seirama dengan ekspektasi.

Pada 1988, Basri, Iswadi dan Kadrid, yang merupakan sejawat seangkatan, kembali diproyeksi untuk bertanggung jawab bagi timnas di Pra Olimpiade 1988, dan di kualifikasi Piala Dunia 1990. Tapi sekali lagi ketiga mentor ini dinilai kurang berhasil.

Sekarang yang tersisa tinggallah Basri, yang kini melatih klub Indonesia Premierl League, Persiba Bantul. Iswadi dan Kadir telah bersemayam di peristirahatan terakhirnya pada 2008 dan 2003 silam.



Bertje Matulapelwa | 1985-1987
Sepertinya sulit dibantah, mungkin Bertje lah satu-satunya pelatih lokal terbaik yang pernah dimiliki tubuh Garuda. Bersama polesan tangan dinginnya, Indonesia meraih puncak kejayaan di taraf Asia Tenggara bahkan Asia.

Medali emas pertama digenggam Indonesia pada SEA Games 1987. Prestasi yang sampai sekarang tak satupun ada lagi pelatih lokal yang mampu mengangkanginya. Satu-satunya yang pernah mengulangi pencapaian tertinggi di level ASEAN ini adalah Anatoli Polosin di tahun 1991, namun dia adalah pelatih asing.

Tonggak sejarah itu dimulai ketika 1985, saat pria yang dijuluki "Sang Pendeta" ini diembani tugas membentuk tim Garuda baru yang ketika itu terpukul telak pasca-dihardik Thailand 7-0 di SEA Games 1985. Tapi hadirnya Bertje benar-benar bak juru selamat. Timnas dibangkitkan seketika dan menandai perhelatan Asian Games 1986 dengan capaian luar biasa: lolos ke semi-final sebelum disingkirkan Korea Selatan. Saat itu hanya satu kalimat dilontarkan dia untuk menaikan gelora semangat Garuda, yaitu "Kibarkan Sang Merah Putih di langit internasional".

Bertje pun meninggal di usia 61 tahun di Raha, Selawesi Tenggara, pada 9 Juli 2002.



Danurwindo | 1995-1996
Melatih Indonesia di tahun 1995-1996, pria 61 tahun ini tidak terlalu banyak memberikan impak. Tapi untuk kali pertama, di tangannya Indonesia dibawa untuk kali pertama lolos ke putaran final Piala Asia 1996. Setelah itu, namanya lebih banyak dikenal sebagai pelatih klub-klub nasional.

Ironisnya, setelah Danurwindo menanggalkan jabatannya sebagai pelatih kepala timnas, Hank Wullems, yang meneruskan tongkat estapet, malah berhasil mengantar Indonesia merengkuh medali perak pada Asian Games 1997.

Pada September 2012 lalu, pelatih yang pernah berkesempatan melatih superstar sepakbola dunia macam Fabio Cannavaro, Robert Pires dan Denilson untuk acara Starbol 2012 itu didapuk menjadi penasihat teknis Persebaya.

Belakangan, pria asli Kutoarjo, Jawa Tengah, ini sering nongol di stasiun televisi swasta sebagai komentator.



Rusdy Bahalwan | 1998-1999
Sosok pelatih yang sampai sekarang masih meninggalkan tanda tanya besar soal misteri 'sepakbola gajah'.

Ditunjuk menukangi timnas untuk Piala Tiger 1998 di Vietnam, Indonesia menandai perhelatan itu dengan cara yang memalukan. Indonesia dan Thailand bentrok, karena sama-sama ingin menghindari tuan rumah Vietnam, keduanya bermain ala sepakbola gajah. Skor sempat tertahan di angka 2-2 sebelum Mursyid Effendi dengan sengaja mengoyak jala sendiri yang dikawal Hendro Kartiko. Kedua tim pada akhirnya menerima konsekuensi hukuman.

Sampai akhir hayatnya pada Agustus 2011 silam, Rusdy sama sekali bungkam dan tak pernah sedikitpun membongkar alasan di balik timnya yang secara sengaja menerapkan skenario itu. Beredar spekulasi jika sang pelatih diminta oleh para pemangku kuasa PSSI untuk melakukan tindak tak sportif itu. Namun, sampai sekarang cerita itu tak bisa dikonfirmasi keabsahannya.

Dan pada akhirnya, Indonesia hanya keluar sebagai peringkat ketiga Piala Tiger edisi itu.



Nandar Iskandar | 1999-2000
Nandar identik dengan Persib Bandung. Namun pada 1999 dia diberi mandat untuk menukangi timnas Indonesia untuk berkancah di Piala Tiger 2000. Di percaturan sepakbola Indonesia, namanya memang tidak perlu diragukan.

Tapi nasib dia tidak berjalan mulus. Gara-gara di penyisihan Indonesia dihantam Thailand 4-1, tak segan-segan PSSI langsung melengserkan dirinya untuk digantikan asistennya, Dananjaya. Bersama Dananjaya Indonesia disulap lebih apik hingga akhirnya keluar sebagai runner-up.

Singgah setahun di kursi pelatih timnas, adapun Nandari lantas lebih banyak kembali merambah dari satu klub ke klub yang lain. Bontang FC, Perseden Denpasar, PSPS Pekanbaru dan Persiba Bantul sempat mengontraknya.



Benny Dollo | 2000-2001 & 2008-2010
Selama dua periode kepelatihan [2000-2001 dan 2008-2010] pria yang sering disapa Bendol ini, prestasi Indonesia belum bisa dikategorikan sukses.

Bendol boleh berbesar kepala bila menilik rekam jejak dia kala melatih klub-klub sebelum terjun ke timnas, tapi dakian paling optimal yang mampu dipersembahkan Bendol untuk publik Tanah Air hanyalah semi-final Piala AFF 2008. Raihan itu saja tidak cukup.

Bendol juga sempat mengepulkan asa tinggi dengan berjanji siap membawa timnas tampil di Piala Asia untuk kali kelima, di Piala Asia 2011.

Akan tetapi, dalam progresnya, si Merah-Putih tak kuasa berbicara banyak di perhelatan tersohor antarnegara Asia tersebut. Kenyataan pahit ini pun mengantar Bendol menuju pintu keluar timnas, dan ketika itu masuklah pelatih asing, Alfred Riedl.



Aji Santoso | 2012
Tahun 2012 Aji Santoso berkesempatan mengemudikan timnas senior berbarengan dengan pekerjaan dia sebagai peracik tim Garuda muda.

Kala itu, dia mengisi posisi yang ditinggalkan Wim Rijsbergen yang dianggap gagal. Ekspektasi mulai diapungkan. Sementara Aji sendiri sejatinya membawa agenda yang tidaklah mudah. Di sela-sela dia mementori para pemain senior, mantan pemain yang pernah membawa pasukan Garuda meraih medali emas di SEA Games 1991 itu juga diproyeksikan untuk menggarap timnas U-23 untuk berlaga di SEA Games edisi 2013.

Namun di tahun yang sama, Nil Maizar belakangan masuk menggantikan peran Aji Santoso. PSSI sempat berdalih jika Aji tidak dipecat, melainkan fokus menggembleng pasukan Merah-Putih belia. Ironisnya, Aji sejatinya baru saja mengomandoi timnas senior berkancah di level internasional kala berhadapan dengan Bahrain. Tapi memang di laga perdana Aji itu Indonesia harus menanggung malu karena diluluhlantakkan 10-0.

Suara minor suporter Indonesia pun seketika mengerang kencang di telinga Aji. Mantan pemain Persebaya ini menjadi bulan-bulanan. Barangkali kenyataan ini yang memaksa PSSI menunjuk Nil Maizar sebagai pelatih kepala anyar.



Nil Maizar | 2012-2013
Membawa Semen Padang promosi pada musim 2010/11, di kampanye edisi itu, tim Kabau Sirah garapannya menuai rentetan pujian setinggi langit. Betapa tidak, baru saja memulai debut di Indonesia Super League, pelatih 43 tahun ini sudah bisa mengantar Semen Padang finis di peringkat empat klasemen ISL dengan catatan fantastis seperti meruntuhkan dominasi macam Arema, Persija, Sriwijaya FC, Persipura sampai Persib.

Tak pelak jika lantas PSSI tak segan mendaulat Nil sebagai pelatih baru timnas senior Indonesia di tahun 2012. Aji yang saat itu menempati jabatan pelatih kepala, dikembalikan ke "habitat"-nya melatih timnas U-23 dengan alasan yang bersangkutan ingin berkonsentrasi penuh saja pada panji muda Indonesia.

Nil kemudian memimpin Indonesia berkancah di Piala AFF 2012. Nahas, di turnamen dua tahunan itu skuat Garuda polesannya harus mengulang memori terburuk sepanjang keikutsertaan di AFF Cup ini pada edisi 2007 silam, yakni tereliminasi di babak grup. Akhir cerita yang selanjutnya memunculkan kembali figur pelatih asing, Luis Manuel Blanco, yang ditunjuk menggantikan Nil. Masuknya Blanco sangat mengejutkan suporter Merah-Putih karena berkesan tiba-tiba. Babak baru soal konflik kontrak antara PSSI dan Nil pun ketika itu sempat menyita perhatian dan emosi.



Rahmad Darmawan | 2013
Lewat proses yang super singkat, Luis Manuel Blanco, yang baru saja bergabung ke timnas Indonesia di periode awal 2013, menerima kenyataan pilu: dipecat.

Pria yang akrab disapa RD pun oleh Badan Tim Nasional [BTN] dibebani tugas menukangi timnas Indonesia yang akan melanjutkan petualangan di Pra Piala Asia 2015, berduet dengan Jacksen F Tiago. Alasan penunjukkan RD dan Jacksen sendiri agar suasana di dalam tubuh timnas kondusif.

Namun sayangnya di lanjutan Pra Piala Asia 2015 kontra Arab Saudi 23 Maret lalu, duet RD dan Jacksen berakhir pedih. Di hadapan puluhan ribu jiwa yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno, Indonesia menyerah 2-1. Hasil ini lantas menempatkan Indonesia di peringkat buncit Grup C tanpa secuil pun poin.

Belakangan, Jacksen F Tiago, yang merupakan pelatih Persipura Jayapura, mengklaim dia sejatinya belum berkomunikasi resmi dengan BTN terkait penunjukkan dirinya menjadi pelatih kepala Indonesia.

Adapun RD belum lama ini malah ditunjuk bersama Aji Santoso untuk mengendalikan timnas U-23 yang digodok untuk SEA Games 2013.

Sumber : goal.com

Berita Terkait

Comment